Sudah
banyak hal yang biasa kita lakukan dengan menggunakan bantuan
teknologi, dengan teknologi ini membuat kita menjadi mudah dalam
melakukan apapun. Sekarang, dengan teknologi kita dapat menyampaikan
gagasan kita ke publik secara efektif untuk mendorong perubahan publik.
Dan ada suatu kejadian di Amerika yang memperlihatkan fenomena
pertarungan pendapat. Pemuda Amerika melakukan gerakan mengungkapkan
pendapat di akun media sosial dengan penggunaan hastag #MakeLibertyWin
dan #MakeDiscourseCivilAgain, gerakan ini berhasil.
Para
pemuda ini menyebarkan pendapat mereka untuk menuntut kampus mereka
dengan menggunakan foto dan video di media sosial. Foto dan video yang
mereka sebarkan membuat banyak orang mengambil tindakan di kampus
mereka, sehingga tuntutan mereka tersampaikan. Hastag yang di sebarkan
mereka bukan hanya sekedar karakter di media sosial, melainkan hastag
merupakan bagian dari sistem advokasi yang inovatif.
Setiap
orang di seluruh dunia banyak menemukan orang yang sependapat dengan
mereka dengan saling berbagi melalui akun media sosial, mereka terlibat
dalam percakapan virtual tentang ideologi mereka dan saling memberi
inspirasi untuk mewujudkan gagasan, walaupun mereka belum pernah
bertemu.
Teknologi
telah memperluas sararana untuk mengemukakan pendapat, selain itu
dengan teknologi juga kita dapat membuat pengumpulan dana,
mendistribusikan petisi dan teknologi memberikan kecepatan dan kekuatan
baru untuk advokat. Jika sebuah pesan yang di sebarkan itu benar,
mungkin pesan itu akan menjadi ‘virus’ dan menjadi katalisator perubahan
ideologis di seluruh komunitas.
Kini, untuk menyebarkan gagasan dan mencari dukungan ada dua cara, yaitu denga cara online dan offline.
Para aktivis memanfaatkan kedua cara tersebut untuk memaksimalkan
penyebaran gagasan ideologis mereka di dunia. Selain untuk menyebarkan
gagasan ideologis, media sosial juga bisa menjadi sarana permusuhan
terhadap gagasan tertentu yang tidak di setujui oleh beberapa orang.
Facebook, Twitter dan Instagram
memberi kenyamanan dengan memudahkan kita dalam penyaringan pesan yang
ingin kita ketahui. Jika kita tidak menyukainya, kita bisa menghapusnya.
Sekarang sudah banyak media sosial yang memiliki kemampuan untuk
mengendalikan siapa saja yang bisa terhubung dengan kita dan memilih
gagasan yang kita inginkan saja. Pada akhirnya, ini mengarah pada momen
keputusan, seruan untuk bertindak di mana kita memutuskan apakah kita
ingin tinggal di ruang gema virtual atau terlibat dalam wacana sehat
dengan orang-orang yang dapat menantang dan memperluas gagasan kita.
-Semoga Bermanfaat-
Editor : Naf/Uml
Sudah
banyak hal yang biasa kita lakukan dengan menggunakan bantuan
teknologi, dengan teknologi ini membuat kita menjadi mudah dalam
melakukan apapun. Sekarang, dengan teknologi kita dapat menyampaikan
gagasan kita ke publik secara efektif untuk mendorong perubahan publik.
Dan ada suatu kejadian di Amerika yang memperlihatkan fenomena
pertarungan pendapat. Pemuda Amerika melakukan gerakan mengungkapkan
pendapat di akun media sosial dengan penggunaan hastag #MakeLibertyWin
dan #MakeDiscourseCivilAgain, gerakan ini berhasil.
Para
pemuda ini menyebarkan pendapat mereka untuk menuntut kampus mereka
dengan menggunakan foto dan video di media sosial. Foto dan video yang
mereka sebarkan membuat banyak orang mengambil tindakan di kampus
mereka, sehingga tuntutan mereka tersampaikan. Hastag yang di sebarkan
mereka bukan hanya sekedar karakter di media sosial, melainkan hastag
merupakan bagian dari sistem advokasi yang inovatif.
Setiap
orang di seluruh dunia banyak menemukan orang yang sependapat dengan
mereka dengan saling berbagi melalui akun media sosial, mereka terlibat
dalam percakapan virtual tentang ideologi mereka dan saling memberi
inspirasi untuk mewujudkan gagasan, walaupun mereka belum pernah
bertemu.
Teknologi
telah memperluas sararana untuk mengemukakan pendapat, selain itu
dengan teknologi juga kita dapat membuat pengumpulan dana,
mendistribusikan petisi dan teknologi memberikan kecepatan dan kekuatan
baru untuk advokat. Jika sebuah pesan yang di sebarkan itu benar,
mungkin pesan itu akan menjadi ‘virus’ dan menjadi katalisator perubahan
ideologis di seluruh komunitas.
Kini, untuk menyebarkan gagasan dan mencari dukungan ada dua cara, yaitu denga cara online dan offline.
Para aktivis memanfaatkan kedua cara tersebut untuk memaksimalkan
penyebaran gagasan ideologis mereka di dunia. Selain untuk menyebarkan
gagasan ideologis, media sosial juga bisa menjadi sarana permusuhan
terhadap gagasan tertentu yang tidak di setujui oleh beberapa orang.
Facebook, Twitter dan Instagram
memberi kenyamanan dengan memudahkan kita dalam penyaringan pesan yang
ingin kita ketahui. Jika kita tidak menyukainya, kita bisa menghapusnya.
Sekarang sudah banyak media sosial yang memiliki kemampuan untuk
mengendalikan siapa saja yang bisa terhubung dengan kita dan memilih
gagasan yang kita inginkan saja. Pada akhirnya, ini mengarah pada momen
keputusan, seruan untuk bertindak di mana kita memutuskan apakah kita
ingin tinggal di ruang gema virtual atau terlibat dalam wacana sehat
dengan orang-orang yang dapat menantang dan memperluas gagasan kita.
-Semoga Bermanfaat-
Editor : Naf/Uml
Tidak ada komentar:
Posting Komentar